Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti “Infaq, Zakat, dan Shadaqah”

Pengertian Shadaqah

 

Secara umum yang dimaksud dengan shadaqah adalah menginfaq-kan atau mendermakan yang tidak hanya harta namun mencakup segala amal atau perbuatan baik. Bahkan dalam sebuah hadist disebutkan “Memberikan senyuman kepada saudaramu adalah shadaqah.”

Tujuan dari shadaqah itu sendiri adalah mencari keridhaan Allah swt. Baik dalam bentuk ibadah maupun secara lahiriyah. Bahkan hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah saw menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, membaca takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami istri, dan melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah.

Shadaqah ditujukan kepada kaum muslimin dan muslimat yang membutuhkan bantuan

 

Di dalam pengartian secara bahasanya Shadaqah berasal dari kata Shidq yang berarti benar. Menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi, benar dalam pengartian di atas adalah benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan.

 

Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampungnya. Kemudian keduanya bercerita tentang sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampong dengan naik bus antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bus yang ditumpanginya terkena musibah, terjadi kecelakaan dengan dahsyat. Seluruh penumpang mengalami luka berat, bahkan ada juga yang meninggal seketika dengan berlumuran darah. Dari seluruh penumpang, hanya ada dua orang yang selamat dari insiden tersebut, bahkan tidak terluka sedikitpun. Mereka itu adalah kedua akhwat tadi. Keduanya menceritakan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur kepada Allah swt.

Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya saat itu, yaitu ketika hendak berangkat mereka sempat bersedakah terlebih dahulu dan selama perjalanan selalu melafadzkan dzikir.

Kejadian di atas seharusnya semakin meyakinkan kita bahwa inilah sebagian dari keutamaan bersedekah. Allah swt pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah kita duga.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik maupun buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Ibarat siapa yang menanam dialah yang akan menuai hasilnya. Demikian juga soal harta yang kini berada dalam genggaman kita dan sering kali membuat kita lalai. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh keikhlasan semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

 

Rasulullah saw. dalam haditsnya menjelaskan tentang cakupan shadaqah yang yang begitu luas, sebagai jawaban atas kegundahan hati para sahabatnya yang tidak mampu secara maksimal bershadaqah dengan hartanya, karena mereka bukanlah orang yang termasuk banyak hartanya. Lalu Rasulullah saw. menjelaskan bahwa shadaqah mencakup beberapa hal, yaitu :

 

  1. Tasbih, Tahlil dan Tahmid

 

Rasulullah saw. menggambarkan pada awal penjelasannya tentang shadaqah bahwa setiap tasbih, tahlil dan tahmid adalah shadaqah. Dalam riwayat lain digambarkan :

Dari Aisyah ra, bahwasannya Rasulullah saw. berkata, “Bahwasannya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, amar ma’ruf nahi munkar, maka akan dihitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian. Dan ia sedang berjalan pada hari itu, sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka.”(HR.Muslim)

 

  1. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

 

Setelah disebutkan bahwa dzikir merupakan shadaqah, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa amar ma’ruf naahi munkar juga merupakan shadaqah. Karena untuk merealisasikannya, seseorang perlu mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu, dan perasaannya. Dan semua hal tersebut terhitung sebagai shadaqah. Bahkan jika dicermati secara mendalam, karena memiliki misi amar ma’ruf nahi munkar. Dalam sebuah ayat-Nya Allah swt. berfirman :

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS.Ali Imran (3): 110]

 

  1. Hubungan Intim Suami Istri

 

Hadits di atas bahkan menggambarkan bahwa hubungan suami istri merupakan shadaqah. Satu pandangan yang cukup asing di telinga para sahabatnya, hingga mereka bertanya, “Apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan shadaqah?” Kemudian dengan bijak Rasulullah saw. menjawab, “Apa pendapatmu jika ia melampiaskannya pada tempat yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskannya pada yang halal, ia akan mendapat pahala.” Di sinilah para sahabat baru menyadari bahwa makna shadaqah sangatlah luas. Bahwa segala bentuk aktivitas yang dilakukan seorang insane, dan diniatkan ikhlas karena Allah, serta tidak melanggar syariah-nya, maka itu akan terhitung sebagai shadaqah.

 

 

Dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra, dari Rasulullah saw. berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah.” (HR. Ibnu Majah)

 

  1. Membantu Urusan Orang Lain

 

Dari Abdillah bin Qais bin Salim Al-Madani, dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, “Setiap muslim harus bershadaqah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah, jika ia tidak mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah saw. bersabda, “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya  untuk dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” beliau bersabda, “Menolong orang yang membutuhkan lagi teraniaya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Mengajak pada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu merupakan shadaqah.” (HR.Muslim)

 

  1. Mengishlah Dua Orang yang Berselisih

 

Dalam sebuah hadits digambarkan oleh Rasulullah saw.: Dai Abu Hurairah r.a. berkata, bahwasannya Rasulullah

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s