Dongeng “Putri Danisa” oleh Dian Rizky Utami

Putri Danisa

Oleh: Dian Rizky Utami

Pada suatu hari, di sebuah kerajaan yang sangat megah hiduplah sepasang Raja dan Ratu yang sangat baik dan bijaksana. Mereka selalu menolong rakyatnya, berlaku adil, dan juga tidak pernah bersikap semena-mena ketika memerintah. Namun ada satu yang menjadi kegundahan dan kesedihan sang Ratu, yaitu, putri sematawayangnya yang bernama Danisa terlahir dalam keadaan tidak seperti manusia biasa.

“Tuhan, mengapa keadaan seperti ini menimpa putri kami satu-satunya?” Ratu pun menangis.

“Permaisuriku, janganlah kita bersedih hati. Yakinlah bahwa Tuhan punya kejutan untuk kita dan Danisa jika kita sabar menunggunya.” Raja menghibur Ratu setiap kali Ratu bersedih.

Putri Danisa memiliki bulu di seluruh tubuhnya, hidungnya besar seperti hidung beruang, telinganya seperti kucing dan kakinya bersisik. Putri Danisa belum pernah diizinkan keluar dari istana karena Ratu takut ia akan sedih ketika penduduk desa melihatnya dengan rupa seperti itu. Putri Danisa dikurung di dalam istana, di menara paling atas karena ia sangat suka sekali dengan pemandangan dari atas sana. Putri Danisa sangat pintar bernyanyi. Suaranya merdu dan tawanya sangat khas. Melihat putrinya tidak merasakan kekurangan apapun, Ratu menjadi sedikit lega. Semua orang di istana sangat menyayangi Putri Danisa. Begitu juga Putri Danisa yang merasa bahwa semua orang sangat menyayanginya. Hanya saja, Putri Danisa memiliki sifat yang suka memaksa.

Suatu ketika, Raja dan Ratu harus mengunjungi kerajaan tetangga selama beberapa hari. Putri Danisa harus tinggal di istana bersama pengawal, pelayan dan penghibur yang ada di istana. Karena Putri Danisa sudah terbiasa tinggal di dalam istana, Raja dan Ratu tidak takut ataupun ragu untuk meninggalkannya. Maka, pergilah mereka setelah berpesan kepada Putri Danisa.

“Putriku yang jelita, satu pintaku kepadamu. Kuminta padamu untuk tidak keluar istana. Karena percayalah, Tirana Penyihir Jahat itu sudah sangat menginginkanmu badan ingin membahayakan nyawamu.” Kata Ibunya.

“Baiklah, Ibunda. Kuharap Ibunda baik-baik saja dan selamat di perjalanan.”

Satu hari, ketika Danisa sedang memberi makan kudanya di belakang istana, ia melihat seekor kelinci putih yang berlari-lari ke arah semak-semak. Ia pun mengikuti kelinci tersebut untuk menangkapnya. Setelah mengikuti beberapa lama, ia pun bisa menangkap kelinci itu dan mengurungnya di kandang kecil. Namun tiba-tiba datanglah seorang pemuda tampan ke hadapannya.

“Putri Danisa, yang jelita. Bolehkan saya meminta kelinci saya yang ada padamu?”

Putri Danisa pun terpesona atas kesopanan dan ketampanan Boni.

“Siapa kamu?” Putri Danisa bertanya.

“Saya Boni, pemuda desa yang ada di wilayah kerajaan ini Putri. Kelinci itu milik saya Putri.”

“Begitukah? Kalau begitu kamu boleh mengambilnya kembali, Boni.”

“Tuan Putri sungguh baik sekali.”

Kemudian Boni yang sopan itu mengambil kelincinya dan pergi dari istana itu. Putri Danisa menyukai Boni yang sangat lemah lembut itu. Dan Putri Danisa pun pergi menemui pelayan istana kesayangannya yang bernama Loli. Setelah ia bercerita tentang pertemuannya dengan Boni tadi, ia pun berkata, “Loli, aku ingin menjadikan Boni sebagai temanku di istana. Dia tampan, baik dan sopan sekali.”

“Tapi Putri, ia hanya orang biasa. Putri Danisa tidak boleh berteman dengan orang biasa.”

“Berteman itu tidak boleh pilih-pilih, Loli. Itu yang diceritakan penghibur istana kepadaku.”

“Tentu saja Putri. Tapi, aku hanya takut kepada Raja dan Ratu.”

“Jika kamu melakukan hal yang benar, kamu tidak perlu takut, Loli.” Sang Putri pun meyakinkan pelayan istana yang biasa menjadi teman dan sahabatnya selama ini.

“Baiklah kalau memang begitu keinginan Tuan Putri. Aku akan mengutus seorang pengawal untuk mencarinya.”

Tak lama kemudian, pengawal datang menghadap Putri Danisa.

“Tuan Putri, Boni akan datang besok. Dia tidak bisa datang hari ini karena harus membantu ibu tirinya yang bekerja sebagai penjual obat.”

“Kalau begitu, bawa aku kesana sekarang. Aku ingin menemuinya hari ini, bukan besok.”

Pada awalnya, pengawal ragu. Namun karena Putri Danisa terus memaksa, akhirnya ia pun setuju. Ditemani oleh Loli, ia pergi ke desa tersebut dan menemui Boni. Namun sayang sekali, Boni sedang tidak berada di rumahnya. Tapi ia bertemu dengan seorang wanita tua yang sedang duduk di atas kursi goyang. Wanita tua ini memiliki rambut putih yang sangat panjang yang dibiarkannya tergerai begitu saja.

“Silahkan masuk.” Kata wanita tua itu.

“Permisi, saya ingin mememui Boni.” Kata Putri Danisa itu.

Wanita tua itu bangkit untuk melihat tamunya. Namun ia kaget, karena tampaknya ia telah bertemu dengan orang yang selama ini dicarinya.

“Putri Danisa?” tanyanya.

“Ya. Aku Putri Danisa. Aku ingin menemui Boni.”

“Ah, Putri Danisa, buru-buru sekali. Duduklah sebentar. Ada banyak yang ingin aku ceritakan padamu.”

Dengan wajah bingung, Putri Danisa duduk, dan Loli mulai merasa ada hal yang akan terjadi.

“Putri Danisa, aku ingin Putri mengetahuinya. Sebenarnya Boni itu tidak suka melihat rupa Tuan Putri. Karena ia takut dan ngeri melihat tubuh Tuan Putri yang berbulu ini.”

Alangkah terkejutnya Putri Danisa dan Loli. “Hai, wanita tua, berani sekali kamu berkata begitu kepada seorang Putri. Kelakuanmu sungguh tidak sopan.” Loli pun marah.

“Tunggu dulu, pelayan istana. Aku ingin menawarkan obat pada Putri Danisa yang cantik ini.”

“Obat apa yang ingin kamu tawarkan kepadaku, wanita tua?” Tanya Putri Danisa.

“Obat untuk menghilangkan kutukanmu.”

“Kutukan?” Putri Danisa dan Loli pun terheran-heran.

“Tentu saja kalian merasa aneh bahwa seorang Raja yang tampan dan Ratu yang amat jelita memiliki seorang Putri berbulu seperti ini. Itu karena kalian tidak tahu bahwa sebenarnya Putri Danisa dikutuk dari kecil untuk memiliki rupa seperti ini. Karena itu aku ingin memberikan penawar kepadamu. Ini, minumlah dan lihat apa yang akan terjadi.” Wanita tua itu menyodorkan secangkir minuman berwarna biru kepada Putri Danisa.

Loli berbisik kepada Putri Danisa, “Tuan Putri, ayo kita pergi dari sini. Aku takut.” Tapi perkataannya tidak didengarkan oleh Putri Danisa karena Sang Putri memaksanya untuk berada di sini.

Kemudian Putri Danisa meminum air yang berada di cangkir itu sampai habis. Ia ingin melihat apa yang terjadi setelah ia meminumnya. Lalu tiba-tiba badannya panas, bulu-bulu di seluruh tubuhnya berguguran, dan sekejap saja ia berubah menjadi Putri yang amat cantik, yang tidak lagi memiliki hidung besar, telinga kucing, dan kaki yang bersisik. Ia amat senang, begitu juga dengan Loli. Ketika ia ingin mengucapkan terima kasih, ia terkejut karena ia tidak bisa berbicara. Loli juga panik karena dengan begitu Putri Danisa tidak akan bisa bernyanyi lagi.

Kemudian si wanita tua itu tertawa terbahak-bahak. Loli pun memberanikan diri untuk bertanya, “Siapa kamu, wanita tua? Mengapa kamu melakukan ini kepada Putri Danisa?”

“Apakah kamu pernah mendengar nama Tirana?” Wanita tua itu bertanya kepada mereka berdua.

Putri Danisa hanya bisa mengangguk dan Loli terkejut sekali.

“Jangan-jangan, kamu adalah Tirana si penyihir tua yang jahat itu?” Tanya Loli.

“Benar sekali.” Kemudian Tirana pun tertawa sangat keras sekali.

Tiba-tiba datanglah Boni dengan membawa pedang yang sangat tajam dan berlari ke arah Putri Danisa. Lalu ia berbisik, “Tuan Putri, ia bukanlah ibu tiri saya. Selama ini saya hanya menjadi pesuruhnya saja. Tapi jika Tuan Putri ingin suara Tuan Putri kembali, potonglah rambut Tirana dengan pedang ini.” Katanya.

“Tapi, apakah rupa Putri Danisa akan kembali lagi?” Tanya Loli.

“Aku tidak tahu. Tapi, apakah kalian ingin melihat Tuan Putri tidak bisa bicara seperti ini?” Tanya Boni pada Loli. Dan Loli menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu, potonglah rambut penyihir tua itu, Tuan Putri. Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kemudian, cepatlah potong rambutnya.”

Putri Danisa mengangguk tanda mengerti. Kemudian, Boni maju untuk melawan Tirana. Kemudian dari belakang, Loli memegangi tangan penyihir tua itu, dan Putri Danisa pun cepat-cepat memotong rambutnya. Maka, matilah Tirana si Penyihir Tua itu. Suara Putri Danisa kembali dan rupanya tetap cantik. Karena ternyata, Tirana itulah yang mengutuk Putri Danisa dari kecil. Sejak itu, Boni menjadi teman Putri Danisa, dan Sang Putri berjanji tidak akan pernah memaksakan kehendaknya lagi. Ketika Raja dan Ratu pulang, mereka sangat terkejut melihat rupa Putri mereka yang benar-benar cantik jelita. Kemudian Putri Danisa menceritakan semua yang telah ia lakukan selama mereka pergi. Sekarang, Ratu tidak lagi bersusah hati, dan Putri Danisa tidak dikurung di dalam istana lagi. Ia bisa pergi kemanapun ia mau, bersama pelayannya Loli dan sahabatnya Boni.

TamatImaget

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s